Kesiapan Psikologis Menikah dan Stres Pengasuhan (Parenting Stress) pada Pasangan yang Menikah di Usia Dini
Keywords:
Psychological Readiness, Early Marriage, Parenting Stress, Family Psychology.Abstract
Early marriage requires psychological readiness because individuals who marry before the age of 19 often face family responsibilities and parenting demands. This study aims to measure and analyze the relationship between psychological readiness for marriage and parenting stress among early-married couples in the urban-commuter area of Cibitung District, Bekasi Regency. A quantitative approach with a correlational design was employed. The study population consisted of couples who married before the age of 19, had been married for one to three years, and had children aged 0–5 years. The sample was selected using purposive sampling, and data were collected through questionnaires. The findings show that psychological readiness for marriage was in the moderate to high category (Mean = 78.45; SD = 8.21), whereas parenting stress varied considerably (Mean = 64.52; SD = 9.87). The normality assumption was fulfilled (p > 0.05). These findings indicate that psychological readiness serves as a protective factor.
Pernikahan dini menuntut kesiapan psikologis yang memadai karena pasangan yang menikah sebelum usia 19 tahun sering menghadapi tuntutan peran keluarga dan pengasuhan secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan mengukur dan menganalisis hubungan antara kesiapan psikologis menikah dan parenting stress pada pasangan yang menikah usia dini di wilayah urban-komuter Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Populasi penelitian adalah pasangan yang menikah di bawah usia 19 tahun, memiliki masa pernikahan 1–3 tahun, serta memiliki anak berusia 0–5 tahun. Sampel ditentukan melalui purposive sampling, sedangkan data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan psikologis menikah berada pada kategori sedang hingga tinggi (Mean = 78,45; SD = 8,21), sementara parenting stress menunjukkan variasi cukup besar (Mean = 64,52; SD = 9,87). Uji normalitas terpenuhi (p > 0,05). Temuan ini menegaskan bahwa kesiapan psikologis berperan sebagai faktor protektif dalam menurunkan risiko parenting stress melalui kematangan emosi, adaptasi, dan pemecahan masalah.
References
ASEAN Secretariat. (2018). ASEAN Consensus on the Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers. Jakarta, Indonesia: ASEAN Secretariat.
Efendi, J., & Ibrahim, J. (2018). Metode penelitian hukum: Normatif dan empiris. Depok, Indonesia: Prenadamedia Group.
Efsari, H. N. (2023). Perlindungan hukum irregular migrant workers Indonesia dalam perspektif hak asasi manusia. Jurnal Hukum & Pembangunan, 53(4), Article 2. doi:10.21143/jhp.vol53.no4.1534
Elias, J. (2018). Governing domestic worker migration in Southeast Asia: Public-private partnerships, regulatory grey zones and the household. Journal of Contemporary Asia, 48(2), 278–300. doi:10.1080/00472336.2017.1392586
Farbenblum, B., Taylor-Nicholson, E., & Paoletti, S. (2013). Migrant workers’ access to justice at home: Indonesia. New York, NY: Open Society Foundations.
Ibrahim, J. (2013). Teori & metodologi penelitian hukum normatif. Malang, Indonesia: Bayumedia Publishing.
International Labour Organization. (2011). C189 - Domestic Workers Convention, 2011 (No. 189). Geneva, Switzerland: International Labour Organization.
Kaur, A. (2010). Labour migration trends and policy challenges in Southeast Asia. Policy and Society, 29(4), 385–397. doi:10.1016/j.polsoc.2010.09.001
Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia. (2024). Data penempatan dan pelindungan pekerja migran Indonesia periode tahun 2024. Jakarta, Indonesia: KP2MI/BP2MI.
Killias, O. (2010). “Illegal” migration as resistance: Legality, morality and coercion in Indonesian domestic worker migration to Malaysia. Asian Journal of Social Science, 38(6), 897–914. doi:10.1163/156853110X530796
Kurniawan, I. (2020). Reorientasi perlindungan hukum Pekerja Migran Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017. Jurnal Hukum & Pembangunan, 50(2). DOI: Tidak tersedia.
Marzuki, P. M. (2014). Penelitian hukum. Jakarta, Indonesia: Kencana Prenada Media Group.
Muthia, A. A. (2020). Legal protection for illegal migrant domestic workers under the ASEAN regulations and its implication for Indonesia. Indonesian Journal of International Law, 17(3), 307–326. doi:10.17304/ijil.vol17.3.788
Nurchayati. (2011). Bringing agency back in: Indonesian migrant domestic workers in Saudi Arabia. Asian and Pacific Migration Journal, 20(3–4), 479–502. doi:10.1177/011719681102000311
Republik Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jakarta, Indonesia: Republik Indonesia.
Republik Indonesia. (2007). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 58. Jakarta, Indonesia: Sekretariat Negara.
Republik Indonesia. (2012). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2012 tentang Pengesahan International Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Members of Their Families. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 115. Jakarta, Indonesia: Sekretariat Negara.
Republik Indonesia. (2017). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 242. Jakarta, Indonesia: Sekretariat Negara.
Silvey, R. (2004). Transnational domestication: State power and Indonesian migrant women in Saudi Arabia. Political Geography, 23(3), 245–264. doi:10.1016/j.polgeo.2003.12.015
Soekanto, S., & Mamudji, S. (2015). Penelitian hukum normatif: Suatu tinjauan singkat. Jakarta, Indonesia: Rajawali Pers.
United Nations. (1990). International Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Members of Their Families. New York, NY: United Nations.

