Pemanfaatan Google Earth Pro Untuk Analisis Ekonomi Biru dan Wisata Berkelanjutan di Pantura Indramayu

Authors

  • Yofy Syarkani Universitas Langlangbuana Bandung, Indonesia Author

Keywords:

Blue Economy, Sustainable Tourism, Geospatial Planning

Abstract

This study explores the potential of blue economy to promote sustainable tourism along the northern coastal region of Indramayu, Indonesia, by utilizing Google Earth Pro. The urgency stems from environmental degradation in coastal areas due to unsustainable exploitation. The research aims to identify strategic locations and develop inclusive blue economy-based tourism models. Theoretically, it draws from concepts of sustainable tourism, blue economy, and geospatial planning using GIS. A qualitative library research method was applied, supported by spatial analysis from satellite imagery. Findings show that Indramayu’s coastal zones possess rich biodiversity—mangroves, coral reefs, and fisheries—with suitability for eco-tourism. Spatial mapping identified priority zones like Karangsong and Pulau Biawak. Challenges such as coastal erosion and infrastructure gaps persist, yet community involvement and policy alignment offer pathways for implementation. The study recommends zoning regulations, digital-based participatory planning, and investment in eco-infrastructure to ensure sustainable growth.

Penelitian ini mengkaji potensi ekonomi biru untuk mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan di wilayah pesisir utara Indramayu dengan memanfaatkan Google Earth Pro. Urgensi muncul dari degradasi lingkungan akibat eksploitasi yang tidak berkelanjutan. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi lokasi strategis dan merumuskan model pariwisata berbasis ekonomi biru yang inklusif. Secara teoritis, kajian ini mengacu pada konsep pariwisata berkelanjutan, ekonomi biru, dan perencanaan geospasial berbasis GIS. Metode yang digunakan adalah studi pustaka kualitatif dengan dukungan analisis spasial berbasis citra satelit. Hasil menunjukkan bahwa pesisir Indramayu memiliki keanekaragaman hayati tinggi seperti mangrove, terumbu karang, dan perikanan yang cocok untuk ekowisata. Pemetaan spasial mengidentifikasi zona prioritas seperti Karangsong dan Pulau Biawak. Tantangan seperti abrasi dan kurangnya infrastruktur masih ada, namun partisipasi masyarakat dan dukungan kebijakan memberikan peluang implementasi. Penelitian ini merekomendasikan regulasi zonasi, perencanaan partisipatif berbasis digital, dan investasi pada infrastruktur ramah lingkungan untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan.

References

Achmad, M., & Jannah, S. (2021). Strategi digitalisasi UMKM di desa melalui pendampingan e-commerce. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 7(1), 112–123.

Anam, M., & Yosepha, Y. (2024). Digitalisasi UMKM di daerah tertinggal: Studi kasus Jawa Barat. Jurnal Pemberdayaan Ekonomi Lokal, 6(2), 98–110.

Handayani, I. P., Ismail, R., & Dewi, I. G. A. M. A. (2023). Blue economy policies for coastal communities: Case study of Bali, Indonesia. Ocean & Coastal Management, 225, 105612. https://doi.org/10.1016/j.ocecoaman.2022.105612

Ministry of Marine Affairs and Fisheries of the Republic of Indonesia. (2017). Presidential Regulation on Indonesian Maritime Policy.

Ministry of Tourism and Creative Economy of the Republic of Indonesia. (2016). Regulation on Environmental Sustainability and Cleanliness, Health, and Safety at Tourism Destinations.

Pearce, D. (1992). Economic values and the natural world. Earthscan Publications.

Prihadi, T. H., Supriharyono, S., & Purwanti, F. (2018). Kesesuaian ekowisata hutan mangrove di Pantai Karangsong, Indramayu. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 8(2), 123–130.

Pratikto, & Munasik, M. (2014). Penilaian ekowisata bawah laut di perairan Pulau Biawak, Indramayu. Jurnal Ilmu Kelautan, 19(1), 45–52.

Setyawati, T. A., Nugraha, W. T., & Kurniawan, A. (2021). The potential of blue economy in supporting sustainable development in coastal areas: A case study of Lamongan, East Java, Indonesia. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 792(1), 012031. https://doi.org/10.1088/1755-1315/792/1/012031

Simbolon, D., & Taufan, P. (2018). Community-based ecotourism development model to increase community income (Case study in Banyuwangi, East Java, Indonesia). Journal of Human Resources and Labor Studies, 6(1), 45–54.

Sodikin, A. (2016). Study of the implementation of sustainable development coastal ecosystem through sustainable agriculture for coastal communities in Indramayu District. International Journal of Environmental Science and Development, 7(10), 758–763. https://doi.org/10.7763/ijesd.2016.v7.823

Sulistyadi, D. P., Budiman, H., & Subiyanto, B. (2013). Blue economy: Analysis of marine and fisheries economic system in Indonesia. Marine Fisheries, 4(1), 45–56.

Sunarta, N., & Arida, S. (2017). Principles of sustainable tourism in coastal areas: Case study of Banyuwangi, Indonesia. Journal of Sustainable Tourism, 25(7), 963–978. https://doi.org/10.1080/09669582.2016.1255555

Tegar, A., & Gurning, S. (2018). The impact of coastal and marine tourism on local economic growth in Banyuwangi, East Java, Indonesia. International Journal of Scientific & Technology Research, 7(4), 180–185.

United Nations. (2017). The blue economy: An ocean of opportunity. United Nations Publications.

World Bank. (2019). The potential of the blue economy: Increasing long-term benefits of the sustainable use of marine resources for Small Island Developing States and coastal least developed countries. World Bank Group.

Downloads

Published

2025-01-02

How to Cite

Pemanfaatan Google Earth Pro Untuk Analisis Ekonomi Biru dan Wisata Berkelanjutan di Pantura Indramayu. (2025). Distingsi: Journal of Digital Society, 3(2), 9-19. https://jurnal.panengeninsani.com/index.php/djods/article/view/39