Kesenjangan Pengawasan Pajak Kripto dan Saham di Indonesia: Kebijakan Publik dan Kepatuhan Wajib Pajak

Authors

  • Fitrajati Ewangga UIN Sunan Gunung Djati Bandung Author

Keywords:

Tax Administration; Transaction Tax Supervision; Crypto Assets; Taxpayer Compliance; Public Policy

Abstract

The rapid growth of cryptocurrency and stock investment in Indonesia has created new challenges for tax administration. This article examines a structural oversight gap between the administration of cryptocurrency and stock taxation in Indonesia, even though both are taxed through a similar final withholding design based on gross transaction value rather than net capital gain. The study uses a literature review method, drawing on Indonesian legal sources, international institutional reports (OECD, IMF), and peer-reviewed academic publications. The findings show that: (1) cryptocurrency is classified as a financial asset under Law No. 4/2023, exempting purchases from Value Added Tax while imposing a final income tax of 0.21% (domestic platforms) or 1% (foreign platforms) on gross sales value, whereas stock sales remain subject to a 0.1% final income tax on the same basis; (2) oversight capacity nonetheless diverges sharply stock transactions are withheld centrally by the Indonesia Stock Exchange, while crypto transactions depend on numerous, partly foreign-based, pseudonymous exchanges; (3) compliance is shaped by tax literacy and by whether automatic withholding exists, as shown by empirical evidence among Indonesian investors; and (4) international practice varies, with Singapore imposing no capital gains tax on individuals while Australia enforces it with extensive third-party reporting. The article concludes that narrowing this gap requires strengthening third-party reporting by crypto exchanges, stabilizing tax administration digitalization, and improving taxpayer education, alongside participation in international information-exchange frameworks (AEOI/CARF) and closer regulatory coordination.

Pertumbuhan investasi aset kripto dan saham menimbulkan tantangan baru bagi administrasi perpajakan Indonesia. Artikel ini mengkaji kesenjangan kapasitas pengawasan dalam administrasi perpajakan atas transaksi kripto dan saham di Indonesia, meskipun keduanya dipungut melalui skema PPh final berbasis nilai bruto transaksi, bukan capital gain bersih. Metode yang digunakan adalah studi literatur, mencakup sumber hukum Indonesia, laporan lembaga internasional (OECD, IMF), serta publikasi akademik terindeks. Hasil kajian menunjukkan: (1) kripto diklasifikasikan sebagai aset keuangan berdasarkan UU No. 4/2023, sehingga PPN atas pembelian dihapuskan dan PPh Final Pasal 22 diterapkan sebesar 0,21% (dalam negeri) atau 1% (luar negeri) dari nilai bruto penjualan, sedangkan penjualan saham tetap dikenai PPh final 0,1% dengan basis serupa; (2) meskipun desain pemungutannya mirip, kapasitas pengawasannya berbeda jauh transaksi saham dipotong otomatis dan terpusat oleh Bursa Efek Indonesia, sementara transaksi kripto bergantung pada banyak penyelenggara yang sebagian berbasis luar negeri dan bersifat pseudonim; (3) kepatuhan investor sangat dipengaruhi oleh literasi pajak dan ada-tidaknya mekanisme pemotongan otomatis, sebagaimana ditunjukkan bukti empiris pada investor kripto maupun saham Indonesia; dan (4) praktik internasional bervariasi Singapura tidak mengenakan pajak capital gain bagi individu, sementara Australia menerapkannya disertai pelaporan data pihak ketiga yang ekstensif. Kajian ini menyimpulkan bahwa mempersempit kesenjangan pengawasan memerlukan penguatan pelaporan pihak ketiga oleh bursa kripto, penstabilan digitalisasi administrasi pajak, dan peningkatan edukasi wajib pajak, disertai partisipasi dalam kerangka pertukaran informasi internasional (AEOI/CARF) serta koordinasi antar-otoritas yang lebih erat.

References

Allingham, M. G., & Sandmo, A. (1972). Income tax evasion: A theoretical analysis. Journal of Public Economics, 1(3–4), 323–338.

Arianty, F. (2024). Implementation challenges and opportunities Coretax administration system on the efficiency of tax administration. Jurnal Vokasi Indonesia, 12(2), Article 2. https://doi.org/10.7454/jvi.v12i2.1227

Australian Taxation Office (ATO). (2026). How to work out and report CGT on crypto. https://www.ato.gov.au/individuals-and-families/investments-and-assets/crypto-asset-investments/how-to-work-out-and-report-cgt-on-crypto

Baer, K., de Mooij, R. A., Hebous, S., & Keen, M. (2023). Taxing cryptocurrencies (IMF Working Paper No. WP/23/144). International Monetary Fund. https://doi.org/10.5089/9798400246586.001

Budiman, S. (2023). Penanggulanan ketidakpatuhan perpajakan terkait transaksi aset kripto di Indonesia. Indonesia of Journal Business Law, 2(1), 1–7. https://doi.org/10.47709/ijbl.v2i1.2032

Cong, L. W., Tang, V. W., & Zhang, T. Q. (2022). How transparency shapes tax policy effectiveness: Evidence from cryptocurrency markets (Georgetown McDonough School of Business Research Paper No. 4195170). SSRN. https://doi.org/10.2139/ssrn.4195170

Direktorat Jenderal Pajak. (2025). Pemerintah perkuat pengaturan pajak aset kripto [Siaran pers]. https://pajak.go.id/id/siaran-pers/pemerintah-perkuat-pengaturan-pajak-aset-kripto

Fadila, S. N., Rosydah, T. N., & Tyas, Y. D. N. (2025). PMK-50/2025 sebagai jalan baru pajak kripto: Analisis perubahan kebijakan dan dampaknya terhadap perilaku investor. Prosiding Seminar Nasional Ekonomi dan Perpajakan, 5(1). https://conference.um.ac.id/index.php/taxcenter/article/view/10946

Hadiatullah, M. A., & Andriani, S. (2025). Dampak pajak cryptocurrency terhadap penerimaan negara dan perilaku investor: Studi bibliometrik VOSviewer. Jurnal Akuntansi, Keuangan, Perpajakan dan Tata Kelola Perusahaan, 2(4), 1227–1243. https://doi.org/10.70248/jakpt.v2i4.2528

Hallan, M. A. K. B., Lobo, F. N., Thio, I. A., Atulolon, B. S., Seran, M. W. R., Bandu, R. G., & Teka, R. W. (2026). Tantangan penegakan hukum pajak terhadap transaksi aset digital lintas batas yuridiksi. Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 4(4), 6515–6523. https://doi.org/10.61104/alz.v4i4.8333

Hoopes, J. L., Menzer, T., & Wilde, J. H. (2025). Who reports cryptocurrency to the IRS? Review of Accounting Studies (in press).

Inland Revenue Authority of Singapore (IRAS). (2025). Sale of property/shares/financial instruments gains. https://www.iras.gov.sg/taxes/individual-income-tax/basics-of-individual-income-tax/what-is-taxable-what-is-not/gains-from-sale-of-property-shares-and-financial-instruments

Kirchler, E., Hoelzl, E., & Wahl, I. (2008). Enforced versus voluntary tax compliance: The “slippery slope” framework. Journal of Economic Psychology, 29(2), 210–225.

Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). (2022). Statistik pasar modal Indonesia [Data statistik]. https://www.ksei.co.id

Lazea, G.-I., Balea-Stanciu, M.-R., Bunget, O.-C., Sumănaru, A.-D., & Coraș, A.-M. G. (2025). Cryptocurrency taxation: A bibliometric analysis and emerging trends. International Journal of Financial Studies, 13(1), 37. https://doi.org/10.3390/ijfs13010037

Lubis, M. H. R., & Kusuma, I. G. K. C. B. A. (2022). Analisis pertumbuhan investor ritel pada masa pandemi dan implikasi pajak penghasilan final atas penjualan saham di bursa. Jurnal Pajak Indonesia (Indonesian Tax Review), 6(2), 245–264. https://doi.org/10.31092/jpi.v6i2.1854

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). (2024). Delivering tax transparency to crypto-assets: A step-by-step guide to understanding and implementing the Crypto-Asset Reporting Framework. OECD Publishing.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2024). Statistik aset keuangan digital dan aset kripto, Oktober 2024 [Data statistik]. https://ojk.go.id

Pajakku. (2026). Bukan capital gain, penjualan aset kripto dikenai PPh final karena alasan ini. https://artikel.pajakku.com/bukan-capital-gain-penjualan-aset-kripto-dikenai-pph-final-karena-alasan-ini

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 50 Tahun 2025 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penghasilan atas Transaksi Perdagangan Aset Kripto.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 81 Tahun 2024 tentang Ketentuan Perpajakan dalam Rangka Pelaksanaan Sistem Inti Administrasi Perpajakan.

Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1997 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1994 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek.

Suseno, M. A., & Oktavia. (2025). Understanding what drives crypto tax reporting in Indonesia: Knowledge and demographic factors. Jurnal Akuntansi, 29(3), 552–568. https://doi.org/10.24912/ja.v29i3.3029

Taufiqullah, Ahmad, N., & Sholihin, Q. (2026). Kepastian hukum dan kepatuhan wajib pajak dalam penerapan pajak atas transaksi aset kripto di Indonesia pasca PMK Nomor 68/PMK.03/2022. Yustisi: Jurnal Hukum dan Hukum Islam, 13(1), 131–140.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.

Downloads

Published

27-07-2026

How to Cite

Kesenjangan Pengawasan Pajak Kripto dan Saham di Indonesia: Kebijakan Publik dan Kepatuhan Wajib Pajak. (2026). Panengen: Journal of Indigenous Knowledge, 4(1), 67-88. https://jurnal.panengeninsani.com/index.php/pjoik/article/view/194

Similar Articles

21-30 of 46

You may also start an advanced similarity search for this article.